Jumat, 05 Oktober 2007

Siapakah Penentu Keberhasilan

Dalam hidup ini kita selalu dihadapkan pada kenyataan peristiwa, di mana ada orang yang punya perjalanan karir lancar, cepat meroket, dan "hoki-an" alias gampang mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Memulai dari staff baru, masuk dalam kelompok karyawan yang diperhitungkan, menduduki posisi manajer, memimpin kantor cabang dan seterusnya bahkan ada yang sampai menjadi calon menantu orang atasan di perusahaan.

Di sisi lain ada juga yang menghadapi perjalanan karir penuh duri, lamban bergerak, dan kalau mau memutuskan pindah ke tempat lain, rasanya susah sekali mendapatkan gantinya hingga kemudian balik lagi ke tempat yang lama. Ada juga orang yang dari dulu sampai sekarang, posisinya itu-itu saja bahkan masalah gaji dan perlakuan lain-lain sudah kalah ketinggalan, meski secara usia dan lama bekerja, ia termasuk orang yang paling lama bekerja. Keragaman kenyataan itu membuat kita bertanya-tanya, apa yang membedakan keberhasilan dan kegagalan tersebut?

Alternatif Jawaban

Dari praktek hidup sehari-hari sedikitnya kita menemukan tiga alternatif pilihan siapa penentu kemajuan atau kemunduran saya:
"Si nasib"
"Si peluang" (kita gagal karena "si peluang" memilih hinggap di orang lain)
Diri sendiri (karena usaha dan prestasi diri kita sendiri)
Jawaban manakah yang paling benar?

Dalam buku The Failing Forward, John C Maxwell menulis bahwa keberanian untuk menggunakan alternatif jawaban ke-3 lah yang menjadi pembeda: antara kemajuan yang berasal dari kegagalan, atau kemunduran karena kegagalan (failing backward).

Belajar Memotivasi Diri Sendiri

a. Nasib

Kita perlu memahami nasib, dalam prinsip aktif-optimum-seimbang): 100 % Tuhan dan 100 % manusia (aktif-optimum-seimbang). Untungnya apa?
Dengan memilih pengertian ini berarti kita berani menuding diri sendiri secara positif bahwa nasib buruk yang menimpa karir kita bukan disebabkan oleh siapa-siapa tetapi kitalah yang secara tidak sadar memilih untuk diam. Jadi, kita sendiri lah yang harus memprakarsai tindakan-tindakan yang kalau kita lakukan akan membuat posisi karir kita bergerak naik.
Sebaliknya jurus ini juga sangat menolong kita dari kealpaan terhadap Tuhan, saat kita sedang bahagia, kaya, sejahtera, mujur. Kemewahan, prestasi, dan kesukesan sering membuat kita lupa akan Tuhan. Kita sering terlalu sombong, terlalu bangga pada diri sendiri dan sombong terhadap Tuhan.

b. Peluang

Selama ini kita sering menyimpulkan bahwa nasib buruk yang menimpa karir kita adalah karena kita tidak diberi peluang maju oleh kantor sebagaimana yang dialami orang lain. Ubahlah pemahaman itu dengan melihat peluang dari sisi lain: bahwa orang lain tidak akan memberi peluang selama kita tidak mencari, menciptakan, memberi dan membuka diri untuk peluang. Contoh tindakan kongkrit:

Tidak perlu menunggu diberi kesempatan belajar tetapi kitalah yang perlu menciptakan kesempatan untuk belajar dari pekerjaan yang selama ini kita tangani. Belajar berarti mengubah ketidakmampuan menjadi kemampuan - keterampilan dan kompetensi baru.
Tidak perlu menunggu paksaan wajib belajar tetapi kitalah yang perlu menanamkan betapa pentingnya mempelajari pekerjaan itu bagi kepentingan kita (sense of urgency) nanti dan suatu saat.
Tidak perlu menunggu kepastian apa untungnya kalau kita mempelajari pekerjaan tetapi kitalah yang memastikan keuntungan itu (result and benefit).
Tidak perlu menunggu dilindungi atasan kalau kita salah tetapi kitalah yang memberanikan diri untuk mengutak-utik cara mengerjakan pekerjaan yang lebih efektif dan efisien dengan tetap menjaga Tidak perlu menunggu kekalahan telak untuk bangkit tetapi kitalah yang perlu memacu semangat hidup kita setiap hari untuk selalu berpikir dan berjalan ke depan, serta tidak memandang kejatuhan sebagai akhir dari segalanya.
Tidak perlu menunggu keadaan sampai sempurna untuk bertindak tetapi kitalah yang perlu menyempurnakan keadaan.
Tidak perlu menunggu peluang mendatangi kita tetapi kitalah yang mesti menciptakan persiapan atas datangnya peluang.
Menurut hukum kebiasaan dan pengalaman sejumlah orang berprestasi di bidang kerjanya, peluang seperti tamu agung yang sensitive dan beradab. Meskipun sudah mendatangi kita dan kita tunggu kedatangannya tetapi kalau cara kita menyambut kedatangannya sambil duduk dan kurang semangat, dia akan cepat pamit meninggalkan kita karena tersinggung. Pengalaman Norman Vincent Peale menyimpulkan: "Saya adalah orang yang paling percaya pada keberuntungan. Semakin giat saya bekerja saya merasakan semakin banyak keberuntungan yang mendatangi saya".

c. Membangun diri

Untuk menjawab berbagai kelemahan yang tidak kita ciptakan dengan sengaja (akibat dari pembawaan lahir atau pengalaman negatif masa lalu) strategi yang mungkin kita lakukan adalah strategi 3A milik Murdo Macleod dalam "7 Steps to Mental mastery" berikut ini:
A1 = Accept (menerima)
A2 = Ask (mempertanyakan)
A3 = Action (melakukan)
Terlebih dahulu, kita perlu belajar mengembangkan sikap menerima dan/atau memaafkan masa lalu (diri sendiri maupun orang-orang yang terlibat/ berpengaruh dalam kehidupan kita). Agar kita bisa memaafkan maka kita perlu menciptakan pertanyaan yang mengarah pada penemuan positif dari pengalaman / keadaan di masa lalu (mengambil hikmahnya). Makna positif itu, mendorong kita semakin memahami apa sebenarnya yang menjadi panggilan hidup kita, dan apa kontribusi pengalaman tersebut terhadap "asset mental" diri sendiri dan terhadap perkembangan diri hingga saat ini. Pemahaman akan panggilan dan arah kehidupan, dan pemahaman akan "asset mental" serta kemampuan actual saat ini, membuat tindakan, pola pikir dan sikap kita lebih terencana, konstruktif, positif dan bertujuan (positif).
Dinamika kehidupan yang harus dihadapi setiap manusia, perlu di respon secara tepat. Tidak ada salahnya jika kita bersikap kritis, mempertanyakan segala sesuatu untuk menemukan makna dan nilai utama - yang amat berarti bagi perjalanan menuju kedewasaan dan keberhasilan hidup. Janganlah kita membatasi diri (self limitting belief), dengan pola pikir yang keliru atau dengan strategi/ cara-cara yang terbatas. Lain persoalan, lain pula cara menghadapinya. Dengan berpikir positif dan bersikap proaktif dalam menghadapi hidup ini, yakinlah bahwa kita dapat memiliki kehidupan yang lebih baik

Menjaga Reputasi

Reputasi adalah bunyi pendapat umum (baca: orang lain) tentang karakter atau kualitas kita. Dilihat dari sini reputasi adalah akibat yang diciptakan oleh sebab. Kita tidak bisa mengontrol pendapat orang lain tetapi kita bisa mengontrol apa yang kita lakukan yang akan menjadi bahan kesimpulan pendapat orang lain. Keharuman reputasi (baca: fame) diperlukan selama apa yang ingin kita realisasikan membutuhkan keterlibatan orang lain. Keharuman reputasi merupakan bagian dari resource yang bisa menciptakan kredibilitas dari orang lain kepada kita. Resource itu bisa digunakan atau akan berguna sebagai bagian dari solusi hidup yang dibutuhkan sekarang atau nanti.

Pengalaman di lapangan dan juga temuan survey menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan yang hendak menerima karyawan memprioritaskan pegawai yang direferensikan oleh seseorang dengan reputasi good. Gambaran demikian hanyalah petikan contoh dari sekian persoalan hubungan kita dengan orang lain di mana keharuman reputasi dapat memberi kontribusi keputusan orang lain tentang kita. Persoalan yang kemudian kerapkali timbul seputar menjaga keharuman reputasi adalah memanipulasi pendapat orang lain tentang kita.

Manipulasi

Memanipulasi pendapat berangkat dari tesis berpikir bahwa keharuman reputasi perlu diciptakan dengan mengubah / mengontrol pendapat orang lain. Tesis demikian jelas tidak rasional. Meskipun iklan bisa kita bikin tetapi keputusan tentang bunyi pendapat tetaplah merupakan wilayah yang di luar kontrol. Selain itu, memanipulasi sama dengan mengangkat kedudukan orang lain sebagai penyebab atas diri kita sementara posisi kita bergeser menjadi akibat. Pergeseran posisi ini bisa menghambat proses perkembangan diri untuk menjadi lebih baik dan lebih maju.

Pergeseran dapat mengakibatkan praktek menyerahkan naskah-diri asli kepada orang lain. Praktek ini akan mematahkan proses yang bekerja menuju "the real self" digantikan oleh proses menciptakan "the perceived self", definisi-diri bayangan. Padahal di dalam "the real self" itulah keunggulan-diri berada yang akan kita gunakan untuk menelusuri arah menuju "the ideal self". Di dalam "the real self" itulah kunci fokus dan kepemilikan tanggung jawab hidup bisa kita temukan. Begitu naskah asli kita serahkan maka orang lain akan mengisi sesuai dengan kepentingan pribadinya (self interest).

Pergeseran ini juga dapat menyuburkan ketidakyakinan atas prinsip kebenaran yang kita yakini benar. Bentuk ketidakyakinan itu bisa berupa perilaku mencari muka yang pada umumnya kita masukkan ke dalam perilaku terlarang secara moral. Bentuk mencari muka paling halus dan perlu diwaspadai adalah ketika kita khawatir bahwa perilaku mencari muka oleh orang lain akan bisa mengalahkan kita. Kekhawatiran demikian merupakan produk ketidakyakinan akan kebenaran prinsip yang kita yakini benar. Meskipun di mulut kita menyalahkan tetapi kekhawatiran itu bisa mendorong kita melakukan perilaku yang sama apabila muncul kesempatan dan keahlian.

Pergeseran posisi juga mengakibatkan munculnya virus ketidakpercayaan diri. Bentuk dari ketidakpercyaan diri adalah apabila kita menjadikan diri kita bukan sebagai sumber kualitas hidup yang kita inginkan. Ketidakpercayaan itu membisikkan kalimat bahwa untuk meraih reputasi yang harum kita membutuhkan sesuatu yang tidak kita miliki saat ini tetapi dimiliki oleh orang lain.

Lingkaran setan akibat itu tidak akan ketemu ujung-pangkalnya kalau tidak dipotong dengan penegasan bahwa kita adalah sebab dari kualitas hidup yang kita inginkan. Kalau kita berpikir bahwa menjaga reputasi tanpa manipulasi itu tidak bisa kita lakukan karena kondisi yang melilit hari ini dan lilitan itu diakibatkan oleh keterbatasan dan keterbatasan itu diakibatkan oleh warisan dan warisan itu juga diakibatkan oleh warisan masa lalu, maka yang terjadi hanyalah self excusing yang membawa kita pada wilayah hidup dengan perasaan hampa kemampuan (rasa tidak berdaya).

Kalau dikembalikan pada hukum keterkaitan (The law of interconnectedness) di dalam diri kita, maka ketiga akibat pergeseran itu tidak saja bekerja di wilayah hubungan kita dengan orang lain melainkan hubungan kita dengan diri sendiri. Pengalaman Mahatma Gandhi menyimpulkan bahwa anda tidak bisa melakukan sesuatu secara benar di salah satu sendi kehidupan ketika anda melakukan kesalahan di sendi kehidupan lainnya.

Contoh yang sering dikemukakan adalah ego kebenaran sendiri. Ternyata hal tersebut tidak bisa kita mengatakan hanya berakibat buruk kepada orang lain akan tetapi dampak buruk paling besar adalah diri kita. Kalau dikaji berdasarkan temuan kecerdasan emosi (Emotional Intelligence) maka egoisme kebenaran sendiri hanya mengakibatkan satu bahaya (tidak langsung) kepada orang lain tetapi tiga bahaya (langsung) kepada kita. Interaksi tidak emphatic adalah dampak buruk yang secara tidak langsung menimpa orang lain. Sementara hilangnya kesadaran diri yang mengakibatkan terkuburnya bakat (keunggulan), hilangnya keseimbangan diri yang mengakibatkan pikiran kita menjadi sampah masalah, dan hilangnya tanggung jawab-diri yang mengakibatkan nasib kita dibentuk oleh orang lain merupakan dampak langsung dari egoisme kebenaran sendiri.

Menciptakan Sebab

Menjaga reputasi menuntut kreasi sebab yang dapat kita kontrol dari mulai tahap kreasi mental (muatan pikiran, perasaan, keyakinan) dan kreasi fisik (tindakan, pembicaraan, sikap). Orang lain akan membunyikan pendapatnya berdasarkan kesimpulan dari kreasi fisik sementara hukum alam akan bekerja dari sejak kreasi mental dibuat terlepas kita mengakui atau tidak. Beberapa langkah berikut mungkin bisa kita ciptakan untuk menjaga keharuman reputasi:

Karakter Moral

Menciptakan sebab keharuman reputasi menuntut kepemilikan karakter moral yang bersumber pada keyakinan atas kebenaran nilai yang bersifat mutlak. Keyakinan berperan sebagai soko guru mengingat kebenaran nilai itu tidak bisa dilihat (invisible) atau sering dijuluki dengan nilai-nilai gaib. Sepintas watak kebenaran nilai ini kontradiktif sebab pikiran kita tidak bisa bekerja kecuali kalau disodorkan materi yang visible (clear-cut objects). Kontradiksi itu baru bisa diselesaikan apabila kita mampu menggunakan pikiran khusus atau keyakinan mendalam yang oleh Napoleon Hill disebut dengan Infinitive Intelligence (penglihatan pikiran khusus). Hanya pikiran khusus yang dapat melihat bahwa kejujuran itu akan membawa keharuman reputasi. Pikiran umum melihat kejujuran itu tidak menguntungkan sama sekali.

Pendek kata, watak kebenaran nilai yang tampil secara gaib itu adalah upaya hukum alam untuk membedakan kualitas keyakinan kita bukan untuk menciptakan kontradiksi antara pikiran dan keyakinan. Perbedaan ini dibuktikan dengan pemberlakuan hukum pembalasan akhir. Semua orang sudah tahu dan yakin kalau pembalasan itu selalu di akhir tetapi yang membedakan bukan keyakinan dan pengetahuan tetapi sejauh mana keyakinan itu bekerja membentuk karakter moral.

Hal lain yang perlu diingat, karakter moral yang dimaksudkan adalah karakter untuk hidup bukan karakter untuk mati. Kematian tidak membutuhkan karakter mengingat kematian adalah the moment of judgment. Dengan maksud ini maka karakter moral yang kita bangun tidak bisa menafikan aspek keutuhan hubungan antara manusia, Tuhan dan alam. Agar keutuhan tercipta maka kuncinya adalah pendekatan yang sesuai dengan hukum wilayah. Karakter moral kepada manusia tidak cukup kalau hanya menggunakan landasan keyakinan atas substansi kebenaran nilai semata melainkan perlu aplikasi pendekatan manusiawi. Menjaga Keutuhan karakter dapat pula dilakukan dengan meminjam pesan Antony Robbin: “Berpegang teguhlah pada prinsip anda tetapi gunakan pendekatan fleksibel ketika dijalankan”.

Kompetensi

Kompetensi dibutuhkan untuk menciptakan sebab keharuman reputasi dan dibutuhkan juga untuk menjaga keutuhan karakter seperti yang disebut di atas. Sumber kompetensi ini adalah karakter mental yang akan kita gunakan untuk menyelesaikan tantangan melalui aplikasi keahlian. Semakin besar keahlian kita menyelesaikan tantangan besar semakin harum reputasi kita di mata orang lain. Kalau karakter mental kita sudah kalah dengan tantangan kecil, tentu tidak akan ada orang lain yang berpendapat good walaupun kita sudah mengiklankan diri kemana-mana karena hukum alam pada akhirnya tidak mengizinkan praktek memanipulasi kompetensi alias tidak bisa dibuat-buat.

Isyarat internal yang bisa kita kenali tentang kualitas karakter mental adalah ukuran yang kita ciptakan antara asset internal dan tantangan eksternal. Kalau kita sudah merasa yakin lebih besar dari tantangan hidup yang kita hadapi maka paling tidak kita sudah memiliki kepercayaan diri yang menjadi kunci kompetensi hidup. Meskipun orang bisa menggunakannya untuk menaklukkan gunung tantangan hidup yang membuat orang itu memiliki keharuman reputasi tetapi di sisi lain keunikan yang dimiliki oleh karakter mental adalah kedahsyatan karakter mental itu bisa dimatikan hanya cukup dengan menggunakan lima karakter huruf: TIDAK. Kalau anda mengatakan "TIDAK BISA" bukan berarti anda tidak mampu tetapi kata TIDAK di sini adalah karakter mental. Kata "TIDAK" bisa menghasilkan kesimpulan mental di mana tantangan hidup menjadi lebih perkasa dan lebah besar di hadapan kita.

Hal lain yang perlu diingat, karakter moral yang dimaksudkan adalah karakter untuk hidup bukan karakter untuk mati. Kematian tidak membutuhkan karakter mengingat kematian adalah the moment of judgment. Dengan maksud ini maka karakter moral yang kita bangun tidak bisa menafikan aspek keutuhan hubungan antara manusia, Tuhan dan alam. Agar keutuhan tercipta maka kuncinya adalah pendekatan yang sesuai dengan hukum wilayah. Karakter moral kepada manusia tidak cukup kalau hanya menggunakan landasan keyakinan atas substansi kebenaran nilai semata melainkan perlu aplikasi pendekatan manusiawi. Menjaga Keutuhan karakter dapat pula dilakukan dengan meminjam pesan Antony Robbin: "Berpegang teguhlah pada prinsip anda tetapi gunakan pendekatan fleksibel ketika dijalankan".

Karakter moral dan karakter mental tidak bisa dipisahkan dengan tata letak yang membedakan antara "anak emas" dan "anak buangan". Ada bagian hidup tertentu di mana kejujuran tidak cukup untuk mengatasi tantangan karena tantangan itu menunggu kecakapan (kompetensi) dan demikian juga sebaliknya.

Kreasi Opini

Keharuman reputasi menuntut kreasi opini untuk menciptakan pengertian orang lain yang lebih benar tentang kita berdasarkan apa yang sebenarnya. Dunia bisnis sering menggunakan seni kreasi opini sebagai metode untuk berkomunikasi dengan pelanggan atau iklan. Aplikasi seni berkomunikasi ini dibutuhkan karena kesalahpahaman orang lain bisa menjadi sumber fitnah yang bisa mencederai keharuman reputasi. Pepatah bilang: “Tak kenal maka tak sayang”. Hanya saja perlu diakui bahwa perbedaan yang memisahkan antara kreasi opini (the art of communication) dengan memanipulasi opini secara permukaan masih subyektif. Tidak mudah membedakan antara iklan yang menipu dan iklan yang benar-benar iklan.
Namun demikian, kita bisa menciptakan perbedaan dari sudut tahapan kreasi (sebab-akibat). Perbedaan pertama berupa perbedaan sebab (essential) yang tidak diketahui oleh siapa pun kecuali diri kita dan Hukum Alam karena terjadi di alam niat internal, semangat dan motivasi. Perbedaan kedua berupa perbedaan akibat yang diketahui oleh orang lain. Kalau sebabnya memanipulasi maka akibat yang diciptakan oleh hukum alam berupa manipulasi. Demikian juga kalau sebabnya berupa kreasi. Hanya saja dengan cara kerja hukum alam yang halus, kesimpulan akhir, dan tidak dramatis itu maka persoalannya adalah, benarkah kita meyakini dengan benar bahwa yang kita yakini itu benar?. Tidak ada orang yang mampu mengajarkan keyakinan kepada kita selama kita memilih tidak yakin.

Menjaga Stabilitas Hidup

Baik secara pribadi atau organisasi, stabilitas hidup diciptakan dengan terus-menerus menciptakan perubahan internal sebagai jawaban dari siklus perubahan eksternal. Jawaban tersebut harus berupa reaksi yang cocok sebab kalau tidak, perubahan yang anda lakukan untuk menjawab bisa jadi justru berupa problem alias terjadi gap dan instabilitas. Kesimpulannya, kunci reaksi yang cocok tersebut terdapat pada keberanian meninggalkan sebagian norma lama yang tidak memadai dan sebagai gantinya, menciptakan norma baru yang lebih memadai. Lalu apa saja yang harus anda pahami agar terjaga stabilitas hidup anda?

The Science of Cybernetics

Selama Perang berkecamuk antara tahun 1939 - 1945, sebuah investigasi oleh pakar militer Amerika menemukan sistem kontrol yang digunakan untuk mendeteksi serangan musuh yang disebut anti-aircraft. Tidak saja terhadap pesawat melainkan juga peralatan perang lainnya. Semula system ini hanya digunakan sebatas mengatur hubungan antara manusia dan peralatan perang serta bagaimana mereka mengoperasikan. Tetapi kemudian berkembang ke wilayah industri baik pada pribadi dan perusahaan yang kemudian dikenal lebih popular dengan sebutan The Science of Cybernetics.

Dari investigasi ditemukan bahwa ciri khas paling menonjol dari sebuah system makhluk hidup, adalah adanya fenomena feedback yang identik dengan proses komunikasi di dalam bisnis atau kehidupan secara menyeluruh. Lebih spesifik, feedback mengacu pada pengertian seperti yang dijelaskan dalam Principles of Management [A.H. Taylor AACCA, GT Britain, 1977] sebagai: automatic response to external change. Contoh: begitu salah satu anggota badan bersentuhan dengan ancaman faktor eksternal misalnya saja api atau lainnya maka secara automatic anda langsung menarik untuk menemukan norma baru yang stabil.

Yang perlu disayangkan, Ilmu Sibernetika telah diformulasikan menjadi sebuah paket materi tertentu untuk profesi tertentu dengan berbagai aksesoris teknologi yang tidak dimiliki kecuali kalangan tertentu. Artinya, lebih ditekankan pada aspek penguasaan pada bagaimana benda-mati bekerja. Padahal esensi yang melatar-belakangi Ilmu tersebut sangat berguna bagi umat manusia, terutama dalam hal mengupayakan keseimbangan hidup antara perubahan internal dan eksternal. Artinya bagaimana pribadi atau organisasi bisa menciptakan reaksi yang cocok dengan perubahan eksternal melalui proses komunikasi mental dan pemahaman. Tujuannya tidak lain agar keadaan hidup masing-masing pribadi atau organisasi selalu dalan situasi on-line alias terkontrol secara tepat.

Masih melihat dari kacamata sejarah, bahwa hasil investigasi menemukan adanya support system yang telah dipasang di dalam masing-masing makhluk hidup, yang memungkinkan terjadinya proses komunikasi antara manusia, keadaan, benda-benda, hewan, dll. Dalam strategi perang dikatakan bahwa kemenangan akan menjadi hak milik bagi yang menguasai keadaan. Tentu ini isyarat bahwa sebenarnya telah dipasang networking cable antara manusia dan makhluk hidup lain supaya mereka bisa berkomunikasi. Lalu dari komunikasi inilah jurus yang tepat untuk merumuskan reaksi yang cocok. Hanya seorang pawang bisnis yang bisa menjinakkan bisnis sama ibaratnya dengan pawang harimau atau binatang buas lainnya. Artinya, menguasai keadaan setelah terjadi komunikasi, interaksi, identifikasi dan reaksi.

Karena manusia tidak saja sekedar organisme hidup (living organism), tetapi juga the human, maka istilah lain yang lebih popular digunakan adalah reflective, bukan automatic. Artinya anda harus memiliki sensitivity feeling yang tajam pada setiap perubahan eksternal agar bisa menemukan reaksi yang cocok dengan cara mengubah tatanan internal agar terjaga keseimbangan hidup. Reflective artinya sudah terbiasa, conditioned by the habit, dengan membiasakan diri untuk selalu online, connected, atau on. Alasannya adalah karanea perubahan eksternal bisa terjadi di luar kontrol anda. Bisa kapan saja atau dalam bentuk apa saja. Satu-satunya yang bisa anda kontrol adalah diri anda. Kontrol diri artinya anda dengan sadar menentukan pilihan reaksi yang positif. Dengan kontrol diri, minimal anda tidak menambah problem dengan problem yang akan menghasilkan problem baru melainkan memposisikan problem diadu dengan solusi.

Lantas bagaimana The Natural Science of Cybernetics bisa diaplikasikan ke dalam kehidupan pribadi atau organisasi? Jika esensinya berupa reflective control to external change, maka anda bisa mengaplikasikannya dengan mengikuti formula "C.Y.T." yang ditawarkan oleh Tom Payne dalam The 7 Dynamic Keys that will Transform Your Life. Formula C.Y.T. adalah singkatan yang berarti:
Catch yourself Thinking
Control Your Thoughts
Create Your Thoughts
Jika anda merasakan perubahan yang menuntut jawaban dalam bentuk reaksi yang cocok, maka pertama kali yang perlu anda lakukan adalah menangkap diri anda secara utuh. Menangkap adalah memiliki sense of ownership and responsibility. Anda adalah pemilik dari kehidupan yang anda rasakan saat ini, bukan menjadi bagiannya, dan karena sebagai pemilik maka andalah yang bertanggung terhadap segala hal yang menimpa. Terhadap keadaan hidup yang anda rasakan, pilihannya cuma dua yaitu menerima untuk mengubah atau menerima untuk membiarkan. Kendali kontrol pilihan tersebut sepenuhnya harus anda miliki. Kenyataannya, pilihan tersebut akan memberikan dampak berupa berupa benih-benih konsekuensi hidup sebesar sukses - gagal; benih-benih antara menjadi pencipta perubahan dan menjadi korban perubahan; benih-benih bahagia dan nestapa. Maka, anda harus dalam kondisi sadar dengan pilihan-pilihan itu. Dalam pengertian memiliki keputusan untuk melakukan sesuatu yang punya akses langsung terhadap situasi.

Atas dasar pilihan tersebut, maka sejumlah ahli nampaknya sepakat untuk mendeklarasikan bahwa di dunia ini tidak ditemukan realitas dalam arti baik atau buruk, negatif atau positif, menyenangkan atau menyedihkan. Realitas bersifat netral yang bisa anda rasakan menurut makna yang anda bubuhkan. Anthony Robbins mengatakan: "You can't always control the wind, but you can control your sails". Melengkapi perkataan Robbin tersebut, Jan Tincher mengatakan: "Reality is for people with no imagination - and nothing is good or bad, but thinking makes it so". Jadi realitas tidak menciptakan pemaknaan apapun atas dirinya kecuali yang telah anda ciptakan.

Wilayah Hidup

Agar stabilitas hidup bisa anda rasakan, maka anda perlu memahami apa saja wilayah hidup yang membutuhkan situasi stabil. Dan bagaimana anda meletakkan stabilitas hidup dalam perspective yang proporsional.

1. Wilayah Internal

Kalau dipukul rata, semua manusia akan menjadikan sejumlah wilayah hidup seperti fisik, mental, emosional, intelektual, spiritual, sosial dan finansial sebagai zone sentral. Jika keseimbangan tidak terjadi dapat dipastikan bahwa hidup akan mengalami kegoncangan. Sedangkan untuk menemukan kesimbangan harus diwujudkan ke dalam upaya untuk mengembangkannya sesuai porsi yang dibutuhkan baik secara pribadi atau organisasi.

2. Wilayah Eksternal

Seperkasa apapun pribadi atau organisasi tidak akan sanggup menghentikan perputaran siklus eksternal. Strategi manajemen bisa tiba-tiba dinyatakan tumpul oleh lingkungan dan persaingan. Dan andapun bisa saja tiba-tiba terkena mental block. Seluruhnya terjadi berada di wilayah yang di luar kontrol anda tetapi memiliki implikasi terhadap kehidupan pribadi atau organisasi. Contoh sepele adalah fenomena krisis moneter. Semula hanya orang tertentu yang merasa harus bingung menemukan pemecahannya. Tetapi karena belum ketemu, akhirnya berimbas ke mana-mana termasuk harga barang yang anda konsumsi setiap hari.

Belajar dari gambaran tersebut, maka dibutuhkan feedback system. Di sinilah lahir potret pribadi antara yang reaktif dan proaktif; antara solution-based atau problem-based living; antara realitas permukan dan realitas esensial. Reaktif adalah feedback yang tidak seimbang dan tidak proporsional. Katakanlah jika biasanya anda berangkat ke kantor bisa dengan nyaman tetapi kemudian tiba-tiba musim hujan terus mengguyur sepanjang hari. Bagi sebagian orang, hujan bisa menjadi masalah yang sebesar ukuran bahagia atau nestapa padahal bisa jadi yang benar-benar dibutuhkan hanya sebuah payung atau rompi.

3. Kualitas Ideal
Stabilitas adalah kualitas hidup dan karena berupa kualitas, maka ia berada di alam ideal, bukan realita. Sama halnya seperti kebahagian, kesuksesan atau lainnya. Maksudnya apa? Jadikan ia sebagai acuan pencapaian atau bintang di langit yang anda gunakan cahayanya untuk melangkah di bumi realitas. Sebagai kualitas, maka ia adalah achievement process, bukan one-off target. Bukan wilayah di mana kaki anda akan berakhir, melainkan cara yang anda gunakan menempuhnya, the way of traveling. Ia diberangkatkan dari sebuah paradigma possibility, choice, perbaikan yang berkelanjutan bukan dogma pasti, keniscayaan, atau realitas sebagai kepastian absolut. Sebab kenyataannya, selain kematian tidak ditemukan bentuk masa depan yang pasti

Hidup Mengalir Bagai Air

Pengertian Dalam Praktek
Kita semua sudah kerap mendengar ucapan seseorang yang bunyinya kira-kira begini: "Hidup saya maaak mengalir saja seperti air." Seorang kawan yang sedang mempresentasikan materi trainingnya tentang tujuan hidup (life goal), sempat harus menjelaskan panjang lebar untuk meyakinkan peserta bahwa teori tujuan hidup itu tidak bertentangan dengan teori hidup mengalir bagai air, seperti yang mereka anut selama ini.

Secara harfiah, secara oret-oretan di atas kertas putih, atau secara pernyataann verbal, ucapan di atas memang mudah bisa dipahami oleh siapapun. Dan umumnya, pemahaman yang tercipta pun tidak berbeda. Yang berbeda adalah pemaknaannya dalam praktek hidup, bukan dalam teori atau dalam pemahaman kognitif. Nah, pemaknaan dalam praktek ini sangat terkait dengan kualitas sikap mental personal / individu. Gambaran kongkritnya mungkin bisa kita amati dari praktek hidup di bawah ini.

Bagi orang dengan kualitas sikap mental tertentu, ucapan di atas mungkin merepresentasikan adanya focus dan flexibility di dalam batinnya. Orang yang fokus dan fleksibel adalah orang yang memiliki tujuan hidup, fokus pada tujuan itu, dan menjalankan agenda-agenda untuk mewujudkan tujuan itu secara fleksibel. Fleksibel di sini, kalau dikiaskan pada kehidupan seorang pelaut, mungkin penjelasannya yang enak adalah adanya penyiasatan yang cantik terhadap ombak.

Seorang pelaut yang fleksibel itu mungkin mengeluarkan jurus-jurus yang keluar dari skenario awal, tapi batinnya tetap fokus pada tujuannya. Bahkan ketika tujuan itu harus diganti karena beberapa alasan, ia akan menciptkan penggantinya yang seimbang, senilai atau dengan yang lebih bagus. Jadi, fokus dan fleksibel di sini artinya adalah dinamis. Dua orang yang saya baca riwayat hidupnya menggambarkan fokus dan fleksibilitas itu adalah Mas Iwan Fals dan Pak Bob Sadino. Keduanya tidak punya agenda tehnis seperti jadwal pelajaran anak sekolah tentang apa yang harus dilakukannya esok hari. Keduanya memilih menjalani hidup mengalir bagai air.

Kalau menurut pengalaman Musashi, seorang jawara yang hidup tahun 1584-1645 dan kini pemikirannya banyak dikaji oleh pakar bisnis dari berbagai universitas terkemuka di dunia ini, filosofi hidup mengalir bagai air itu dijelaskan dengan istilah "ordered and flexibility" Air itu makhluk yang sangat ordered. Ia punya watak dasar mengalir dengan mencari berbagai celah yang mungkin untuk diterobos. Di samping itu, air juga sangat fleksibel. Dicampur dengan apapun, ia bisa beradaptasi dan pada saat yang sama, air tetaplah air.

Di pihak lain, bagi orang tertentu dengan kualitas mental tertentu, ucapan di atas mungkin merepresentasikan adanya ketidakjelasan hidup, memasrahkan nasib pada nasib, atau larut ke dalam realitas. Ketidakjelasan di sini berbeda dengan fokus dan fleksibel. Letak perbedaan itu adalah pada tujuan dan langkah-langkah yang dilakukan untuk mencapai tujuan itu. Ketika kita mengucapkan hidup kita mengalir bagai air, namun tidak ada tujuan yang hendak kita raih dan tidak ada langkah-lengkah riil yang kita tempuh, maka mengalirnya kita mungkin bukan dinamika, bukan ordered and flexibility, melainkan mungkin seperti orang yang terbawa ombak di lautan.

Keseimbangan Adalah Kunci
Kalau dilihat dengan menggunakan kacamata positif, esensi dari filsafat hidup mengalir bagai air itu sebetulnya adalah keseimbangan. Seimbang di sini artinya terbebas dari hal-hal yang ekstrim. Biasanya, hal-hal yang ekstrim itu tidak terlalu bagus akibatnya buat kita, baik secara personal ataupun sosial.

Kalau kita sudah memiliki tujuan, target, visi atau apapun namanya, lalu kita sudah menjalankan agenda-agenda riil untuk merealisasikan tujuan itu, tentunya ini bagus. Tapi bila kita menyikapi dan menjalaninya secara ekstrim, berlebihan, hanya itu yang kita pikirkan secara kaku, tentu ini juga kurang bagus. Ini bisa membuat kita menjadi makhluk yang sangat individualis yang kering.

Aplikasi konsep Management By Objective (MBO) sudah membuktikan ini. Konsep yang dikembangkan oleh Dauglas McGregor ini memang dinilai sebagai bentuk riil dari aplikasi Teori Y dalam menajemen. Dengan MBO ini dimaksudkan bahwa setiap orang di dalam organisasi perlu memiliki target yang ketat untuk mencapai tujuan. Organisasi untung dan pekerja pun untung.

Ide dalam konsep ini tentunya bagus. Tapi bila diterapkan secara ekstrim (berlebihan, terlalu ketat pada target, terlalu memasabodohkan proses), ternyata ada hal buruk yang timbul dalam organisasi. Salah satu yang dominan adalah munculnya egoisme individu atau unit dalam organisasi yang bisa mengancam kinerja. Sebagai contoh misalnya bagian marketing tidak mau tahu dengan bagian operasi atau sebaliknya. Apa jadinya? Yang dirugikan pasti organisasi. Organisasi tidak bisa memberikan service yang optimal kepada pelanggan akibat egoisme internal.

Begitu juga kalau kita menjalani hidup ini terlalu mengikuti realitas, terlalu menerima realitas. Akibatnya bisa lebih buruk dari yang di atas. Menerima realitas itu bagus / positif. Jika kita sudah bisa menerima, maka kita akan bisa memahami. Jika kita sudah bisa memahami, maka pikiran kita akan lebih mudah menentukan apa yang akan kita lakukan. Dengan begitu, maka hidup kita menjadi ordered and flexibility, tidak mudah kalut oleh realitas dan tidak bertengkar dengan realitas.

Tapi jika ini kita jalankan secara ekstrim, terlalu pasrah pada nasib, terlalu mengandalkan Tuhan, tentunya tidak bagus. Karena itu, baik konsep pengetahuan atau konsep agama, tidak satupun yang membenarkan ini. Agama mengajarkan agar seseorang itu bisa memainkan peranan sebagai khalifah (decision maker) dan sebagai hamba (tunduk pada Tuhan) secara seimbang. Ini agar hidup kita mengalir bagai air. Satu sisi kita harus berpikir sebagai makhluk yang kuat dengan ke-khalifah-an kita, tapi di sisi lain, kita pun tetap berpikir sebagai hamba yang lemah dengan kehambaan kita.

Beberapa Ide Pembelajaran
Merujuk pada gagasan Peter Senge tentang learning, di sana ada istilah Adaptative Learning dan ada Generative Learning. Generative artinya kita merumuskan konsep tentang realita yang kita inginkan, misalnya saja, punya target, tujuan atau visi. You are the law of yourself. Sedangkan Adaptative maksudnya kita mengambil pelajaran dari realita yang muncul di luar skenario, misalnya saja, menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, dan seterusnya.

Kalkulasinya, jika kita telah berhasil menjalankan dua modol learning itu, maka hidup kita akan lebih dinamis atau mengalir bagai air. Kita tetap punya sasaran yang ingin kita raih dan pada saat yang sama, kita tetap bisa menyiasati masalah atau keadaan yang muncul di luar skenario.

Selain itu, kita juga bisa menjalankan langkah-langkah berikut ini:

Pertama, perbanyak wilayah. Idealnya, jangan hanya wilayah finansial saja yang kita kasih target pada hidup kita. Kita perlu tambah, misalnya saja, wilayah emosional, intelektual, spiritual, sosial, keluarga, pendidikan anak, dan lain-lain. Konon, Mark Victor Hansen, penulis buku Chicken Soup for The Soul, punya catatan sebanyak seratus tujuan dalam dirinya.

Mengejar terget finansial memang bagus, karena faktanya semua urusan butuh uang. Tapi bila hanya itu yang menjadi perhatian kita secara berlebihan, tentu akibatnya tidak bagus. Contoh yang paling riil misalnya saja pencapaian target di wilayah finansial kita bagus, tapi wilayah lain, katakanlah wilayah keluarga atau pendidikan anak, tidak bagus atau berantakan. Apa jadinya? Pasti kita tidak bisa menikmati hasil pencapaian finansial itu senikmat kalau dibanding dengan misalnya kita tetap menjaga keseimbangan wilayah lain.

Kedua, tentukan prioritas. Maunya kita semua, pasti kita ingin hal-hal yang ideal itu terjadi pada saat yang sama dan sekaligus. Ini memang manusiawi. Tapi kita sendiri tahu bahwa realitas lebih sering bergerak secara liar. Masalah yang kita hadapi hari ini berbeda dengan yang kita hadapi sekian tahun lalu. Lebih berbeda lagi dengan yang akan kita hadapi nanti. Karena itu dibutuhkan skala prioritas untuk menentukan mana yang paling kita utamakan (first priority), mana yang kita nilai penting (important), dan mana yang kita nilai mendesak (urgent).

Ketiga, belajar menajamkan fokus. Fokus ini kemampuan. Artinya, orang akan memiliki tingkat kefokusan yang semakin bagus apabila ia belajar (acquired skill). Karena terkait dengan kemampuan, maka yang menjadi penentu di sini bukan dunia di luar diri kita, melainkan dunia di dalam diri kita. Dunia di luar diri kita memang punya pengaruh tapi sifatnya tidak menentukan.

Contoh-contoh di lapangan sudah banyak membuktikan itu. Banyak ibu rumah tangga yang kerja di luar rumah tapi tetap bisa mengatur fokusnya untuk mendidik anak. Banyak pejuang kita dulu yang punya pekerjaan banyak, dari mulai urusan mengusir penjajah, urusan kantor, urusan lain-lain, tapi tetap bisa fokus pada keluarga, pada anak-anak, dan lain-lain.

Intinya, kita perlu melawan alasan-alasan yang kita ciptakan sendiri terkait dengan fokus ini. Misalnya saja, kita beralasan sibuk urusan pekerjaan sehingga yang lain berantakan. Kalau kita benarkan (justifikasi), memang itu akan benar-benar terjadi. Tapi kalau kita lawan sendiri, kesempatannya untuk menang masih terbuka lebar. Fokus di sini kemampuan mencurahkan atau memusatkan perhatian pada hal-hal yang menurut kita penting.

Keempat, tetap fleksibel. Antara fokus dan fleksibel ini tidak bisa dipisahkan kalau yang kita inginkan adalah hasil yang bagus. Fokus artinya batin kita (the mind) tetap mengarah pada sasaran yang telah kita buat. Sedangkan fleksibel artinya tindakan kita (action) menyesuaikan realitas. Ibarat orang menyopir kendaraan, fokus diperlukan agar kita bisa sampai tujuan dengan selamat dan cepat. Sedangkan fleksibel diperlukan untuk menyiasati kondisi jalan. Bila jalannya belok, kita perlu belok. Bahkan bila jalannya macet dan kita tahu ada jalan tikus, ya itu perlu kita tempuh. Intinya, fokus dan fleksibel akan membantu kita menjalani filsafat hidup mengalir bagai air.

Kelima, menjaga keseimbangan 3K. Seperti yang sudah sering saya tulis, 3K di sini maksudnya adalah Kebutuhan (K1), Keinginan (K2) dan Kelancaran (K3). Agar hidup kita mengalir bagai air, 3K ini perlu diseimbangkan. Kebutuhan di sini adalah urgensitas yang tidak bisa ditunda, seperti makan, biaya sekolah, reparasi kendaraan, dan seterusnya. Sedangkan keinginan di sini adalah sesuatu yang belum terwujud atau baru terwujud sebagiannya, misalnya pengembangan karir, usaha, pendidikan lanjutan, dan seterusnya. Adapun kelancaran di sini adalah penyelesaian masalah yang muncul.

Kalau kita hanya mengejar kebutuhan yang sifatnya urgent atau merasa terintimidasi oleh hanya kebutuhan jangka pendek sehari-hari, maka langkah kita pun tidak dinamis. Kenapa? Alasannya, supaya hidup kita dinamis memerlukan sebuah visi (keinginan) yang kita perjuangkan. Tetapi bila kita lebih fokus pada realisasi keinginan dengan mengabaikan kebutuhan, ini juga tidak realistis. Orang tidak bisa mengejar keinginan yang masih jauh apabila kebutuhan sehari-harinya terancam.

Begitu juga kalau yang kita pikirkan setiap saat itu masalah. Terlalu ekstrim melihat hidup dari sisi masalahnya akan membuat hidup kita tidak bisa mengalir bagai air. Cara pandang kita yang seperti ini bisa jadi akan menutupi pandangan kita terhadap peluang. Namun, kalau masalah itu kita abaikan secara ekstrim, inipun akan mengancam keamaan kita. Masalah yang diabaikan lama-lama membesar dan itu akan membatasi hidup kita. Karena itu, Anthony Robbin menasehatkan, gunakan 10 % pikiranmu untuk melihat masalah lalu gunakan sisanya untuk melihat solusi atau peluang.

Dengan menjalankan langkah-langkah di atas, tidak berarti hidup kita langsung sempurna. Sebab, kesempurnaan itu adalah sebuah proses yang selalu disempurnakan.

Instruksi Internal

Kisah kesuksesan Ford di industri otomotif setidaknya telah membuka kesadaran banyak orang tentang betapa besar kekuatan yang dapat dibangkitkan oleh kemampuan mental dalam meraih suatu kesuksesan. Dengan pengetahuannya di bidang engineering yang dikatakan sangat minim, tidak menghalangi Ford untuk merealisasikan gagasannya menjadi raja di industri ini. Bukan berarti Ford memahami bahwa pengetahuan engineering tidak dibutuhkan untuk membangun industri otomotif atau menolak menerima peranan pengetahuan engineering tetapi Ford memahami bahwa tatanan umum itu sebatas menawarkan pilihan.

Selain Ford masih banyak ditemukan sejumlah orang sukses di sekeliling kita yang proses meraih kesuksesan itu tidak ditempuh melalui tangga sebagaimana yang telah divetokan oleh tatanan umum meskipun tidak menolak kebenarannya. Lebih tepat dikatakan, Ford dan orang sukses semisalnya lebih menaruh perhatian dan lebih mematuhi petunjuk yang diberikan oleh kekuatan di dalam dirinya. Petunjuk itulah yang dinamakan Internal Instructor. Apa itu Internal instruktur dan bagaimana memahaminya?

Apakah Instruksi Internal?

Instruksi Internal, seperti yang pernah ditulis oleh Anne S. Doody dalam artikelnya The Power of Knowing Who You Are (Center for Change: 2001) adalah dorongan internal yang membimbing anda meraih sesuatu dan menyelamatkan dari sesuatu. Ford memahami bahwa dorongan internalnya menunjukkan gagasan di bidang industri otomotif dapat direalisasikan dengan menerapkan keunggulan dirinya dalam hal "Managing and Organizing People". Dengan keunggulan itu Ford menggabungkang people dan technology engineering yang akhirnya membawa "the dynamic in the world". Hanya saja secara kebetulan, dorongan yang diberikan oleh instruksi internal itu berlawanan arus dengan tatanan umum yang sedang berjalan di lingkungannya.

Tatanan umum memiliki "rule" dan standard umum sementara realisasi gagasan membutuhkan usaha pemberdayaan lebih keras dan lebih cerdas di atas ukuran rata-rata yang dipahami oleh umum yang kemudian terkesan sebagai pengecualian. Munculnya pengecualian ini, menurut Anne tidak lepas dari watak dasar instruksi internal yang antara lain dijelaskan sebagai berikut:

1. Tidak Populer

Semua orang memiliki instruksi internal yang menjadi petunjuk menemukan keunggulan di bidang tertentu di balik mayoritas kesamaan keinginan umum. Dengan sifatnya yang tidak populer itu sering terjadi kesalahpahaman di level umum dalam bentuk konotasi ganda. Kalau semua orang berpikir bahwa untuk membangun industri otomotif harus memahami engineering di tingkat konsep dan praktek, sementara Ford tidak demikian, maka Ford layak dijuluki unpopular yang lebih berkonotasi aneh, gila, hebat dll. Kenyataan ini tidak terjadi hanya kepada Ford. Secara umum bisa diamati bahwa semakin besar kepatuhan seseorang terhadap instruksi internalnya, semakin banyak ditemukan bentuk tertentu yang berbeda dengan tatanan umum yang bisa jadi searah atau berlawanan.

2. Tidak Terlihat

Watak kedua ini menggambarkan sifatnya yang sangat personal sehingga tidak bisa dilihat oleh mata tatanan umum atau oleh diri sendiri kecuali sering berusaha melihatnya dan menemukan vibrasi riilnya di dalam. Napoleon Hill menamakan dengan Unseen Guide. Jika teori kemanusiaan mengatakan semua orang sudah dibekali keunggulan atau bakat alamiah tetapi kenyataannya hanya sedikit orang yang berhasil memanfaatkannya hal itu pertanda bahwa mayoritas orang lebih sering mengarahkan penglihatan mayornya ke luar pada minor object. Padahal untuk bisa melihatnya dibutuhkan major sight ke dalam pada major object yang sangat personal.

3. Pengecualian

Watak ketiga dari instruksi internal adalah sering memunculkan definisi pengecualian yang diekspresikan ke dalam sudut pandang orisinil tersendiri secara kokoh. Instruksi tersebut bila praktekkan bisa berbentuk penolakan terhadap konformitas tatanan umum ketika dirasakan tidak bekerja. Kekokohan itulah yang menjadi alasan kuat untuk melakukan sesuatu berdasarkan instruksi dengan dalih personal yang tidak bisa dibendung meskipun oleh dirinya sendiri.

Hal ini bisa dibedakan dengan kekokohan yang dihasilkan dari dependensi pada instruksi eksternal. Seandainya Pramoedya Ananta Tur mematuhi instruksi eksternal sebagaimana rule tatanan umum bahwa untuk menghasilkan karya sastra haruslah didukung dengan fasilitas referensi, tehnologi, ketenangan hidup dan lain-lain, tentu tidak satu pun karya sastra yang dihasilkan dari tangannya. Sebab sebagian besar waktunya dihabiskan di penjara ditambah dengan penyiksaan fisik.

Kunci Pembuka

Dari penjelasan singkat tentang watak atau sifat umum Instruktur Internal di atas, maka sangat logis jika dikatakan oleh Anne bahwa kunci untuk mengenalnya lebih dekat adalah mengetahui diri kita (know yourself). Selain memahamkan watak instruktur internal lebih dekat, Socrates bahkan sempat mengatakan bahwa memahami diri adalah pintu untuk mengetahui orang lain dan dunia. Tidak hanya itu, esensi ajaran agama yang menjadi bagian dasar hidup kita pun mengatakan memahami Tuhan harus diawali dari upaya memahami diri.

Perlu ditambahkan bahwa diri yang dimaksudkan di sini adalah "The Self" yang berarti memberi kemenangan kepadanya atas "The Ego". Karena kemenangan lebih sering diberikan kepada The Ego - dorongan dari luar ke dalam, maka kunci untuk memahami instruksi internal yang akan menunjukkan kita pada bakat alamiah akhirnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya atau hanya berfungsi secara minimalis dengan hasil rata-rata.
Begitu besarnya kekuatan yang dihasilkan dari pemahaman diri. Oleh karena itu layaklah kita bertanya, dari mana dimulai? Sebelumnya perlu digaris-bawahi bahwa memahami diri adalah tahapan dari pencapaian proses sehingga tidak lepas dari upaya untuk meletakkannya sebagai materi belajar.

Aplikasi Belajar

Orang tidak menjadi langsung tahu siapa dirinya begitu ia dilahirkan, tetapi dapat menjadi tahu melalui proses pemberdayaan dari dalam ke luar. Materi pemberdayaan berikut bisa dijadikan langkah awal untuk memahami diri:

1. Eksplorasi

Dari sekian banyak rutinitas dan keharusan lain yang menjadi bagian tatanan umum sering menciptakan pagar mental antara diri kita dan keadaan eksternal yang tidak jarang menggoda untuk dipahami sebagai bentuk kekuatan manipulatif atau intimidatif. Kalau dikembalikan bahwa "the reality is the shadow of mindset", maka pemahaman tersebut bukan "absolute truth" melainkan pilihan antara mengubah the mindset atau tidak mengubahnya. Eksplorasi diri bisa diartikan sebagai pilihan mengubah mindset untuk dapat merasakan perubahan realitas.

Contoh sederhana adalah niat kita ke kantor. Hal itu bisa dipahami sebagai keharusan yang punya konsekuensi reward dan punishment tetapi di sisi lain menawarkan kesempatan untuk dipahami sebagai bagian penting dari eksplorasi diri. Dengan memahaminya sebagai wilayah eksplorasi maka akan memunculkan optimalisasi tanggung jawab yang secara tidak langsung akan membuka cakrawala tentang diri kita lebih luas.

2. Labelisasi

Dari eksplorasi mental yang anda lakukan, buatlah label yang membedakan antara diri anda dan orang lain, antara sesuatu yang bekerja dan sesuatu yang mandul, antara situasi spesifik dan situasi umum. Semakin banyak daftar label yang membedakan antara anda dan orang lain, maka semakin jelas anda memahami siapa diri anda. Hanya saja sedikit perlu dicatat bahwa membuat label tidak bisa disamakan dengan membandingkan diri anda dan orang lain. Label adalah membuat posisi mental dengan arah-fokus pada pemahaman ke dalam sementara membanding tidak punya arah-fokus demikian bahkan lebih sering berupa veto pengadilan-diri.

3. Refleksi

Sulit diingkari bahwa banyak yang sudah kita jalankan atau gunakan tetapi banyak makna yang tidak terserap karena tidak kita ciptakan pemaknaan dengan sengaja. Refleksi diri adalah menciptakan zona bebas interaksi kecuali hanya dengan "the self" tentang "the self" untuk menemukan makna di dalam diri mengingat begitu besar makna yang dikandung. Tetapi perlu diakui, justru sebagian besar energi, waktu dan perhatian sering kita habiskan untuk menemukan makna di luar.

Walhasil, mengikuti tatanan umum jelas tidak salah karena di satu sisi rule yang terdapat di dalam tatanan itu merupakan representasi dari kebenaran umum. Tetapi ketika sudah berbicara pemberdayaan personal, maka membutuhkan seleksi yang ketat untuk mengetahui bagian yang bekerja dan bagian lain yang mandul. Yakin sekali, tidak hanya Ford atau orang lain yang hanya bisa dikenal namanya lewat pertemuan imajinatif yang diberi kesempatan untuk memahami instruksi internal. Bisa jadi orang lain yang dekat dengan anda bahkan diri anda sendiri pun bisa.

 
template by : uniQue  |    modified by : your name